═हই• ⃟ ⃟ •❂͜͡✯
١٧ جمادى الثاني ١٤٤٦ هـ ✯͜͡⊱• ⃟ ⃟ •ইह═
𝐓𝐀𝐇𝐋𝐈𝐋𝐀𝐍 𝐘𝐀𝐍𝐆 𝐃𝐈𝐓𝐔𝐃𝐔𝐇𝐊𝐀𝐍 𝐁𝐈𝐃'𝐀𝐇 𝐓𝐄𝐑𝐍𝐘𝐀𝐓𝐀 𝐓𝐈𝐃𝐀𝐊 𝐌𝐄𝐍𝐘𝐈𝐌𝐏𝐀𝐍𝐆 𝐃𝐀𝐍 𝐘𝐀𝐍𝐆 𝐌𝐄𝐍𝐔𝐃𝐔𝐇 𝐇𝐀𝐑𝐀𝐌 𝐓𝐄𝐑𝐍𝐘𝐀𝐓𝐀 𝐘𝐀𝐍𝐆 𝐃𝐋𝐎𝐋𝐀𝐋𝐀𝐇 𝐓𝐄𝐑𝐒𝐄𝐒𝐀𝐓
ACARA TAHLILAN DAN BERSEDEKAH MAKANAN DIDALAMNYA
1)• Allah dalam Surat Ali Imron Ayat : 130, memperbolehkan menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, diantara bentuk sedekahnya antara lain :
a. Bersedekah dengan membuat makanan ketika keluarga meninggal untuk keluarga mayyit yang masih hidup, atau untuk menjamu yang berta'ziyyah maupun orang orang yang mengikuti acara tahlilan, hal ini masih mengikuti Al Qur'an walaupun Ulama' berbeda pendapat [Artinya masih mengikuti sabda Rasulullah -ﷺ- : فِى أَمْرِنَا هَذَا : dalam urusan kami ini (urusan agama)].
b• Bersedekah dengan membaca Surat Yasin masih dalam (فِى أَمْرِنَا هَذَا) karena Yasin disamping ia termasuk Al Qur'an bahkan ia merupakan hatinya Al Qur'an, dalam beberapa riwayat hadits diperintahkan untuk dibacakan kepada orang yang sedang sekaratul maut maupun yang sudah meninggal, dengan niatan membuatkan kaplingan tanah disurga bagi si mayyit.
c• Bersedekah dengan membaca tahlil juga masih (فِى أَمْرِنَا هَذَا) karena, tidak keluar dari Sunnah Rasulullah -ﷺ-, bahkan Kalimah "la Ilaha Illalloh" termasuk seutama utamanya dzikir, bahkan bisa menjadi perlindungan orang kafir agar tidak dibunuh jika membacanya.
d• Bersedekah dengan menghibur mereka agar tidak terus larut dalam kesedihan, atau melakukan niyahah (meratapi mayyit), hal ini juga masih (فِى أَمْرِنَا هَذَا) karena dalam banyak riwayat yang menganjurkan untuk itu, dan semua itu bisa bermanfaat bagi mayyit, dan tidak menjadi beban mayyit didalam kubur karena kerelaan keluarga yang ditinggalkannya.
2]• Memintakan Maghfiroh atau ampunan kepada sesama muslim baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal, ini juga masih (فِى أَمْرِنَا هَذَا) karena Allah sendiri yang berfirman dalam surat Al Hasyr ayat 10 "Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami", dan Rasul-Nya yang bersabda : "Mintakanlah ampunan untuk saudara kalian, dan mohonkanlah keteguhan untuknya, karena sesungguhnya sekarang ia sedang ditanya."
Adapun yang mengharamkan atau membid'ah bid'ahkan acara tahlilan, yang didalamya berisi bacaan Qur'an termasuk bacaan Yasin, memintakan ampunan bagi yang masih hidup atau yang sudah meninggal, bersedekah dengan makanan atau dengan apa saja, dengan niatan pahalanya dikirimkan bagi orang yang meninggal, dalam acara kematian, semua yang dituduhkan tidak satupun bersumber dari Al Qur'an atau Al Hadits yang mengatakan : (فَهُوَ رَدٌّ) perkara perkara tersebut tertolak. Walhasil justru yang mengharamkan semua itulah yang keluar dari riwayat hadits : (فِى أَمْرِنَا هَذَا), karena Allah dan Rasul-Nya tidak memerintahkannya, dan dia sendirilah yang berbuat bid'ah kesesatan, ditambah tanpa adanya referensi Qur'an maupun Hadits Nabi -ﷺ-.
1]• Λᄂ QЦЯ'ΛП
i)• Diperbolehkan bersedekah ketika dalam keadaan senang maupun susah, saat lapang maupun sempit.
Allah Ta'ala berfirman:
الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
Artinya : (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.
(QS. Ali Imran: 003/ 130)
❁˚ৡ✿⊱• Tersebut dalam kitab Tafsir Jalalain (hal. 85):
{الَّذِينَ يُنْفِقُونَ} فِي طَاعَة اللَّه {فِي السَّرَّاء وَالضَّرَّاء} الْيُسْر وَالْعُسْر {وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظ} الْكَافِينَ عَنْ إمْضَائِهِ مَعَ الْقُدْرَة {وَالْعَافِينَ عَنْ النَّاس} مِمَّنْ ظَلَمَهُمْ أَيْ التَّارِكِينَ عُقُوبَتهمْ {وَاَللَّه يُحِبّ الْمُحْسِنِينَ} بِهَذِهِ الْأَفْعَال أَيْ يُثِيبهُمْ
[انظر كتاب تفسير الجلالين : (ص ٨٥) / آل عمران ١٣٤ / المؤلف: جلال الدين محمد بن أحمد المحلي الشافعي (ت ٨٦٤هـ) وجلال الدين عبد الرحمن بن أبي بكر السيوطي الشافعي (ت ٩١١هـ) / الناشر: دار الحديث - القاهرة، الطبعة: الأولى، بدون السنة].
Orang-orang yang menafkahkan) dalam ketaatan kepada Allah (di waktu senang dan susah), ketika masa mudah dan sulit, (dan orang-orang yang menahan amarah), yang mampu mengendalikannya dengan kekuasaan, (dan yang memaafkan orang-orang yang berbuat zalim), yaitu orang-orang yang berbuat zalim. yang meninggalkan siksanya. (Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik) dengan amalnya, yaitu Dia memberi pahala kepada mereka. Selesai.
ii)• Diperintahkan Memintakan Ampunan Untuk Mayyit
Allah Ta'ala berfirman:
وَالَّذِينَ جَاءُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
(سورة الحشر : ٠٢٨/ ١٠).
Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: "Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang".
(QS. Al Hashr: 028/ 10)
2]• Λᄂ ΉΛDIƬƧ
Disunnahkan membuat atau mengirimkan makanan bagi yang terkena musibah, dan dilarang bertamu kepada mereka.
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ حَدَّثَنِي جَعْفَرُ بْنُ خَالِدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جَعْفَرٍ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -ﷺ-:
«اصْنَعُوا لِآلِ جَعْفَرٍ طَعَامًا فَإِنَّهُ قَدْ أَتَاهُمْ أَمْرٌ شَغَلَهُمْ».
[رواه ابو داود / ٢٠ - كتاب الجنائز / باب صنعة الطعام لأهل الميت / رقم الحديث: ٣١٣٢].
Dari Abdullah bin Ja'far radliyyAllahu 'anhu, beliau berkata; Rasulullah -ﷺ- bersabda:
"Buatkan makanan untuk keluarga Ja'far, sesungguhnya telah datang kepada mereka perkara yang menyibukkan mereka."
[HR. Abu Dawud No. 3132]
❁˚ৡ✿⊱•Al 'Alamah Syaraful Al Haq Ash Shidiqiy Al Adzum Abadi berkata dalam Kitabnya 'Aunu Al Ma'bud Syarhu Sunan Abi Dawud (juz. 8 hal. 282):
وَيُؤَيِّدُهُ حَدِيثُ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْبَجَلِيِّ قَالَ : كُنَّا نَرَى الِاجْتِمَاعَ إِلَى أَهْلِ الْمَيِّتِ وَصَنْعَةِ الطَّعَامِ مِنَ النِّيَاحَةِ أَخْرَجَهُ ابْنُ مَاجَهْ وَبَوَّبَ بَابُ مَا جَاءَ فِي النَّهْيِ عَنِ الِاجْتِمَاعِ إِلَى أَهْلِ الْمَيِّتِ وَصَنْعَةِ الطَّعَامِ ، وَهَذَا الْحَدِيثُ سَنَدُهُ صَحِيحٌ وَرِجَالُهُ عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ . قَالَهُ السِّنْدِيُّ : وَقَالَ أَيْضًا : قَوْلُهُ كُنَّا نَرَى هَذَا بِمَنْزِلَةِ رِوَايَةِ إِجْمَاعِ الصَّحَابَةِ أَوْ تَقْرِيرٍ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَعَلَى الثَّانِي فَحُكْمُهُ الرَّفْعُ وَعَلَى التَّقْدِيرَيْنِ فَهُوَ حُجَّةٌ .
وَبِالْجُمْلَةِ فَهَذَا عَكْسُ الْوَارِدِ إِذِ الْوَارِدُ أَنْ يَصْنَعَ النَّاسُ الطَّعَامَ لِأَهْلِ الْمَيِّتِ فَاجْتِمَاعُ النَّاسِ فِي بَيْتِهِمْ حَتَّى يَتَكَلَّفُوا لِأَجَلِهِمُ الطَّعَامَ قَلْبٌ لِذَلِكَ : وَقَدْ ذَكَرَ كَثِيرٌ مِنَ الْفُقَهَاءِ أَنَّ الضِّيَافَةَ لِأَهْلِ الْمَيِّتِ قَلْبٌ لِلْمَعْقُولِ لِأَنَّ الضِّيَافَةَ حَقًّا أَنْ تَكُونَ لِلسُّرُورِ لَا لِلْحُزْنِ انْتَهَى .
[انظر كتاب عون المعبود شرح سنن أبي داود :(ج ٨ ص ٢٨٢) / ٢٠ - كتاب الجنائز / باب صنعة الطعام لأهل الميت / المؤلف: محمد أشرف بن أمير بن علي بن حيدر، أبو عبد الرحمن، شرف الحق، الصديقي، العظيم آبادي (ت ١٣٢٩هـ) / الناشر: دار الكتب العلمية - بيروت، الطبعة: الثانية، ١٤١٥ هـ].
Hal ini didukung oleh hadits Jarir bin Abdullah Al-Bajaliy yang mengatakan: "Kami berpandangan bahwa berkumpul-kumpul di keluarga mayit dan membuat makanan adalah bagian dari Niyahah (ratapan). ". Dikeluarkan Oleh Ibnu Majah. Dan ia membuat bab : "Bab Larangan berkumpul-kumpul dan membuat makanan di tempat mayit."
Hadits ini sanadnya shahih dan perawinya sesuai dengan syarat Imam Muslim, yang Al-Sindi telah mengatakannya. Dan Ia juga berkata : UNGKAPANNYA : “KAMI MELIHAT", HAL INI MENEMPATI RIWAYAT YANG DISEPAKATI PARA SAHABAT ATAU PENGAKUAN NABI -ﷺ-. Dan menurut yang kedua, hukumnya marfu', dan atas kedua perkiraan tersebut merupakan sebuah argumen (hujjah, dalil).
Singkatnya, hal ini bertolak belakang dengan apa yang warid (datang dari Rasulullah -ﷺ-), karena yang warid adalah masyarakat menyiapkan makanan untuk keluarga orang yang meninggal, sehingga masyarakat berkumpul di rumahnya untuk menyiapkan makanan bagi keluarga orang yang meninggal, maka berkumpulnya orang orang dalam rumah mereka, sehingga mereka menginstruksikan kepada keluarga yang meninggal untuk meyediakan makan bagi mereka adalah bertolak belakang dari semua itu : sesungguhnya banyak ahli hukum yang menyatakan bahwa silaturahmi kepada keluarga orang yang meninggal adalah hal yang bertolak belakang bagi orang orang yang berakal, karena silaturahmi sesungguhnya untuk kebahagiaan, bukan untuk kesedihan. Selesai.
Dan disunnahkan memintakan Maghfiroh atau ampunan bagi mayyit berdasarkan riwayat hadits:
حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُوسَى الرَّازِيُّ حَدَّثَنَا هِشَامٌ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بَحِيرٍ عَنْ هَانِئٍ مَوْلَى عُثْمَانَ عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ قَالَ : كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا فَرَغَ مِنْ دَفْنِ الْمَيِّتِ وَقَفَ عَلَيْهِ فَقَالَ :
«اسْتَغْفِرُوا لِأَخِيكُمْ وَسَلُوا لَهُ بِالتَّثْبِيتِ فَإِنَّهُ الْآنَ يُسْأَلُ».
قَالَ أَبُو دَاوُد بَحِيرٌ ابْنُ رَيْسَانَ
[رواه أبو داود / ٢٠ - كتاب الجنائز / باب الاستغفار عند القبر للميت في وقت الانصراف / رقم الحديث : ٣٢٢١].
Dari Utsman bin 'Affan radliyyAllahu 'anhu, beliau berkata; Nabi -ﷺ- apabila telah selesai dari menguburkan mayit beliau berkata:
"Mintakanlah ampunan untuk saudara kalian, dan mohonkanlah keteguhan untuknya, karena sesungguhnya sekarang ia sedang ditanya."
Abu Daud berkata; Bahir bin Raisan.
[HR. Abu Dawud No. 3221]
3]• KЯΣΛƧI IBΛDΛΉ DӨΛ DΛП ƧΣBΛGΛIПYΛ PΛDΛ ZΛMΛП DΛП ƧΣƧЦDΛΉ ПΛBI -ﷺ-
Diantara pro dan kontra dalam kalangan para Ulama' mengenai kreasi baru membuat acara atau amaliyyah setelah kematian bagi si mayyit setelah ia dikebumikan, mulai dari acara tahlilan, yasinan, Sedekahan, dan sebagainya.
❁˚ৡ✿⊱•Dengan mengutip fatwa Sayyid Ahmad Zaini Dahlan gurunya، berkata Syaikh Sayyid Al-Bakriy bin Muhammad Syatho Ad Dimyathiy Asy Syafi'iy dalam kitabnya I’anatu Ath-Thalibin (juz. 2 hal. 165 - 166):
مَا يَفْعَلُهُ النَّاسُ مِنَ اْلاِجْتِمَاعِ عِنْدَ أَهْلِ الْمَيِّتِ وَصُنْعِ الطَّعَامِ مِنَ الْبِدَعِ الْمُنْكَرَةِ ...(إلى أن قال)... وَفِيْ حَاشِيَةِ الْعَلاَّمَةِ الْجَمَلِ عَلَى شَرْحِ الْمَنْهَجِ وَمِنَ الْبِدَعِ الْمُنْكَرَةِ وَالْمَكْرُوْهِ فِعْلُهَا مَا يَفْعَلُهُ النَّاسُ مِنَ الْوَحْشَةِ وَالْجُمَعِ وَاْلأَرْبَعِيْنَ بَلْ كُلُّ ذَلِكَ حَرَامٌ إِنْ كَانَ مِنْ مَالِ مَحْجُوْرٍ أَوْ مِنْ مَيِّتٍ عَلَيْهِ دَيْنٌ أَوْ يَتَرَتَّبُ عَلَيْهِ ضَرَرٌ أَوْ نَحْوُ ذَلِكَ اهـ ...(إلى أن قال)...
وَلاَ شَكَّ أَنَّ مَنْعَ النَّاسِ مِنْ هَذِهِ الْبِدْعَةِ الْمُنْكَرَةِ فِيْهِ إِحْيَاءٌ لِلسُّنَّةِ وَإِمَاتَةٌ لِلْبِدْعَةِ وَفَتْحٌ لِكَثِيْرٍ مِنْ أَبْوَابِ الْخَيْرِ وَغَلْقٌ لِكَثِيْرٍ مِنْ أَبْوَابِ الشَّرِّ فَإِنَّ النَّاسَ يَتَكَلَّفُوْنَ تَكَلُّفًا كَثِيْرًا يُؤَدِّيْ إِلَى أَنْ يَكُوْنَ ذَلِكَ الصُّنْعُ مُحَرَّمًا. انتهى
[انظر كتاب إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين : (ج ٢ ص ١٦٥ - ١٦٦) / باب الصلاة / المؤلف: أبو بكر (المشهور بالبكري) عثمان بن محمد شطا الدمياطي الشافعي (ت ١٣١٠هـ) / الناشر: دار الفكر للطباعة والنشر والتوريع، الطبعة: الأولى، ١٤١٨ هـ - ١٩٩٧ مـ].
“Apa yang dilakukan oleh manusia berupa berkumbul di rumah keluarga duka cita dan menyediakan makanan adalah termasuk perbuatan bid’ah yang munkar...(sampai ia berkata)...
Dalam Hasyiyah al-Jamal diterangkan : “Di antara bid’ah yang munkar adalah tradisi selamatan (kenduri) kematian yang disebut wahsyah, juma’, dan arba’in (nama-nama tradisi di Hijaz). Bahkan semua itu dihukumi haram apabila makanan tersebut diambil dari harta mahjur ‘alaih (orang yang belum dibolehkan mentasarufkan hartanya seperti anak yang belum dewasa), atau harta si mati yang memiliki hutang, atau dapat menimbulkan madarat pada si mati tersebut dan sesamanya.” Selesai ...(sampai ia berkata)...
Tidak diragukan lagi bahwa mencegah manusia dari bid’ah yang munkar ini, dapat menghidupkan sunnah, mematikan bid’ah, membuka sekian banyak pintu-pintu kebaikan dan menutup sekian banyak pintu-pintu kejelekan. Karena manusia yang melakukannya telah banyak memaksakan diri yang membawa pada hukum keharaman.” Selesai.
Meski demikian, apabila makanan yang disediakan kepada penta’ziyah tersebut berasal dari bantuan para tetangga, maka status hukum makruhnya menjadi hilang dan berubah menjadi tidak makruh.
❁˚ৡ✿⊱•Hal ini seperti dikemukakan oleh Syaikh Abdul Karim Bayyarah al-Baghdadi, mufti madzhab Syafi’i di Iraq, dalam kitabnya Jawahir Al-Fatawa (juz. 1 hal. 78):
اِنِ اجْتَمَعَ الْمُعِزُّوْنَ الرُّشَدَاءُ وَأَعْطَى كُلٌّ مِنْهُمْ بِاخْتِيَارِهِ مِقْدَارًا مِنَ النُّقُوْدِ أَوْ جَمَعُوْا فِيْمَا بَيْنَهُمْ مَا يُكْتَفَى بِهِ لِذَلِكَ الْجَمْعِ مِنَ الْمَأْكُوْلاَتِ وَالْمَشْرُوْبَاتِ وَأَرْسَلُوْهُ إِلَى أَهْلِ الْمَيِّتِ أَوْ إِلَى أَحَدِ جِيْرَانِهِمْ وَتَنَاوَلُوْا ذَلِكَ بَعْدَ الْوُصُوْلِ اِلَى مَحَلِّ التَّعْزِيَةِ فَلاَ حَرَجَ فِيْهِ هَذَا وَاللهُ الْهَادِيْ إِلَى الْحَقِّ وَالصَّوَابِ.
“Apabila orang-orang yang berta’ziyah yang dewasa berkumpul, lalu masing-masing mereka menyerahkan sejumlah uang, atau mengumpulkan sesuatu yang mencukupi untuk konsumsi perkumpulan (selamatan kematian) berupa kebutuhan makanan dan minuman, dan mengirimkannya kepada keluarga si mati atau salah satu tetangganya, lalu mereka menjamahnya setelah sampai di tempat ta’ziyah itu, maka hal tersebut tidak mengandung hukum kesulitan (tidak apa-apa). Allah lah yang menunjukkan pada kebenaran.” Selesai.
❁˚ৡ✿⊱•Dalam konteks ini, Syaikh Abdullah Al-Jurdaniy berkata dalam Kitabnya Fath al-‘Allam Syarh Mursyid al-Anam (juz. 3 hal. 218).
يَجُوْزُ مِنْهُ مَا جَرَتْ بِهِ الْعَادَةُ عِنْدَ الْإِماَمِ مَالِكٍ كَالْجُمَعِ وَنَحْوِهَا وَفِيْهِ فُسْحَةٌ كَمَا قَالَهُ الْعَلاَّمَةُ الْمُرْصِفِيُّ فِيْ رِسَالَةٍ لَهُ.
“Hidangan kematian yang telah berlaku menjadi tradisi seperti tradisi Juma’ dan sesamanya adalah boleh menurut Imam Malik. Pandangan ini mengandung keringanan sebagaimana dikatakan oleh al-Allamah al-Murshifi dalam risalahnya.” Selesai.
❁˚ৡ✿⊱•Dalam hal ini, Al-Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan dalam kitab Al-Zuhd dan Abu Nu'aim Fi Hilyatu Al Auliya' :
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ مَالِكٍ، ثنا عَبْدُ اللهِ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ، ثنا أَبِي، ثنا هَاشِمُ بْنُ الْقَاسِمِ، ثنا الْأَشْجَعِيُّ، عَنْ سُفْيَانَ، قَالَ: قَالَ طَاوُسٌ:
«إِنَّ الْمَوْتَى يُفْتَنُوْنَ فِيْ قُبُوْرِهِمْ سَبْعاً فَكَانُوْا يَسْتَحِبُّوْنَ أَنْ يُطْعَمَ عَنْهُمْ تِلْكَ الْأَياَّمَ».
[رواه أحمد في الزهد. وأبو نعيم في الحلية واللفظ له / فمن الطبقة الأولى من التابعين / طاوس بن كيسان ومنهم المتفقه اليقظان والمتعبد ...الخ. وابن رجب. وابن حجر العسقلاني. والسيوطي].
“Dari Sufyan berkata: “Thawus berkata: “Sesungguhnya orang yang mati akan diuji di dalam kubur selama tujuh hari, karena itu mereka (kaum salaf) menganjurkan sedekah makanan selama hari-hari tersebut.”
[HR. Ahmad bin Hanbal dalam al-Zuhd. Al-Hafizh Abu Nu’aim dalam Hilyah al-Auliya’ Teks Miliknya. Al-Hafizh Ibnu Rajab dalam Ahwal Al-Qubur (32). Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Al-Mathalib Al-‘Aliyah (juz 5 hal. 330). Dan Al-Hafizh Al-Suyuthi dalam Al-Hawi Lil-Fatawa (juz 2 hal. 178)].
Pada malam pertama sampai ke tujuh, karena pada malam tersebut orang-orang wafat mendapatkan berbagai ujian di alam kubur. Sesuai dengan pemaparan Imam Abdurrahman bin Abi Bakar Jalaluddin as-Suyuti dalam kitabnya, Al-Hāwi lil Fatāwa, yaitu:
قَالَ طَاوُسٌ: إِنَّ الْمَوْتَى يُفْتَنُونَ فِي قُبُورِهِمْ سَبْعًا، فَكَانُوا يَسْتَحِبُّونَ أَنْ يُطْعَمَ عَنْهُمْ تِلْكَ الْأَيَّامَ...(إلى أن قال)...
عَنْ عُبَيْدِ بْنِ عُمَيْرٍ قَالَ: يُفْتَنُ رَجُلَانِ مُؤْمِنٌ وَمُنَافِقٌ، فَأَمَّا الْمُؤْمِنُ فَيُفْتَنُ سَبْعًا، وَأَمَّا الْمُنَافِقُ فَيُفْتَنُ أَرْبَعِينَ صَبَاحًا.
[أخرجه السيوطي في الحاوي للفتاوى : (ج ٢ ص ٢١٦) / مبحث المعاد / طلوع الثريا بإظهار ما كان خفيا].
“Imam Thawus berkata: Sesungguhnya orang-orang yang sudah wafat mendapatkan ujian di dalam kubur mereka selama tujuh hari. Oleh sebab itu, para sahabat senang untuk memberi sedekah maknan pada tujuh hari tersebut.”
(Semakna dengan uraian ini keterangan berikut):
Dari Ubaid bin Umair, ia berkata: Dua orang, yakni seorang mukmin dan seorang munafik, memperoleh fitnah kubur. Adapun seorang mukmin, ia difitnah selama tujuh hari, sedangkan seorang munafik disiksa selama empat puluh hari.”
[Diriwayatkan Oleh As Suyuthiy Dalam Kitabnya Al Hawiy Lilfatawa].
❁˚ৡ✿⊱•Syaikh Nawawi Al-Bantaniy Al Jawiy Al Indonisiy Asy Syafi'iy memaparkan bahwa sedekah atas nama mayyit dapat meringankan ujiannya dihari pertamanya dikubur, beliau menjelaskan dalam kitab karyanya, Nihāyatuz Zain (hal. 107):
لَا يَأْتِي على الْمَيِّت أَشد من اللَّيْلَة الأولى فارحموا بِالصَّدَقَةِ من يَمُوت
[انظر كتاب نهاية الزين في إرشاد المبتدئين : (ص ١٠٧) / فصل في الصلاة / المؤلف: محمد بن عمر نووي الجاوي البنتني إقليما، التناري بلدا الاندونيسي الشافعي (ت ١٣١٦هـ) / الناشر: دار الفكر - بيروت، الطبعة: الأولى، بدون السنة].
“Tidaklah datang kepada mayat yang lebih dahsyat keresahannya melainkan di malam pertama. Maka kasihanilah mereka dengan bersedekah atas nama orang yang meninggal tersebut.” Selesai
❁˚ৡ✿⊱•DALIL-DALIL TAHLIL SESUAI AJARAN AHLUSSUNAH WAL-JAMA'AH sebagai berikut:
Imam Jalaluddin Abdurrahman As Suyuthiy Asy Syafi'iy berkata dalam Kitabnya Al Hawi Lil Fatawa (juz. 2 hal. 234):
أَنَّ سُنَّةَ الْإِطْعَامِ سَبْعَةُ أَيَّامٍ، بَلَغَنِي أَنَّهَا مُسْتَمِرَّةٌ إِلَى الْآنَ بِمَكَّةَ وَالْمَدِينَةِ، فَالظَّاهِرُ أَنَّهَا لَمْ تُتْرَكْ مِنْ عَهْدِ الصَّحَابَةِ إِلَى الْآنَ، وَأَنَّهُمْ أَخَذُوهَا خَلَفًا عَنْ سَلَفٍ إِلَى الصَّدْرِ الْأَوَّلِ.
[انظر كتاب الحاوي للفتاوي : (ج ٢ ص ٢٣٤) / بحث المعاد / طلوع الثريا بإظهار ما كان خفيا / المؤلف: عبد الرحمن بن أبي بكر، جلال الدين السيوطي الشافعي (ت ٩١١هـ) / الناشر: دار الفكر للطباعة والنشر، بيروت - لبنان، عام النشر: ١٤٢٤ هـ - ٢٠٠٤ مـ].
“Sesungguhnya telah sampai kepadaku bahwasanya kesunahan bersedekah memberi makanan selama 7 hari itu telah berlangsung di Makkah dan Madinah hingga sekarang. Maka secara zahir bahwa sedekah tersebut tidak pernah ditinggalkan mulai dari zaman para sahabat sampai sekarang. Para generasi akhir (khalaf) telah mengambilnya secara turun temurun dari generasi terdahulu (salaf) sampai masa generasi pertama.” Selesai
❁˚ৡ✿⊱•Syaikh Muhammad Nawawiy Al Bantaniy Al Jawiy Al Indonisiy Asy Syafi'iy berkata dalam Kitabnya Nihayatu Az Zain (hal. 281):
وَالتَّصَدُّق عَن الْمَيِّت بِوَجْه شَرْعِي مَطْلُوب وَلَا يتَقَيَّد بِكَوْنِهِ فِي سَبْعَة أَيَّام أَو أَكثر أَو أقل وتقييده بِبَعْض الْأَيَّام من العوائد فَقَط كَمَا أفتى بذلك السَّيِّد أَحْمد دحلان وَقد جرت عَادَة النَّاس بالتصدق عَن الْمَيِّت فِي ثَالِث من مَوته وَفِي سَابِع وَفِي تَمام الْعشْرين وَفِي الْأَرْبَعين وَفِي الْمِائَة وَبعد ذَلِك يفعل كل سنة حولا فِي يَوْم الْمَوْت كَمَا أَفَادَهُ شَيخنَا يُوسُف السنبلاويني
[انظر كتاب نهاية الزين في إرشاد المبتدئين : (ص ٢٨١) / باب في الوصية / المؤلف: محمد بن عمر نووي الجاوي البنتني إقليما، التناري بلدا الاندونيسي الشافعي (ت ١٣١٦هـ) / الناشر: دار الفكر - بيروت، الطبعة: الأولى، بدون السنة].
“Dianjurkan oleh syara’ bersedekah bagi mayit, sedangkan bersedekah itu tidak di batasi dengan 7 hari, lebih banyak atau lebih sedikit. Adap pelaksanaan bersedekah pada hari-hari tertentu itu hanya sebagai kebiasaan (adat) saja, sebagaimana fatwa Sayid Akhmad Dahlan yang mengatakan ”Sungguh telah berlaku dimasyarakat adanya kebiasaan bersedekah untuk mayit pada hari ketiga dari kematian, hari ketujuh, dua puluh, dan ketika genap empat puluh hari serta seratus hari. Setelah itu dilakukan setiap tahun pada hari kematiannya. Sebagaimana disampaikan oleh Syaikh Yusuf Al-Sumbulawini.” Selesai.
✯͜͡❂⊱•أَلحَمْدُ لِلّـهِ الَّذِيْ بِنِعْمَتِهِ تَتُمُّ الصّالِحَاتُ✯͜͡❂⊱•
•._.••´¯``•.¸¸.•` 🎀 ӄʀǟɖɛռǟռ ֆɛʟǟȶǟռ
ֆʀʊʍɮʊռɢ
ʍǟɢɛʟǟռɢ
🎀 `•.¸¸.•``¯´••._.•
٢٥ جمادى الثاني ١٤٤٦ هـ
19 ໓ēŞē๓๖ēr 2024 ๓

