*•••⊰✿ৡৢ˚❁ ٢٠ ذو القعدة ١٤٤٥ هـ ❁˚ৡ✿⊱•••*
─═हই• ⃟ ⃟ •⊰❂͜͡✯━━━━━━━━━━━━━┓
•⊰❂͜͡✯﷽✯͜͡❂⊱• | ᔕIKᗩᑭ ᗪᗩᑎ ᒍEᑎIᔕ OᖇᗩᑎG ᗷEᖇᗪᗩᔕᗩᖇKᗩᑎ TIᑎGKᗩT KEIᒪᗰᑌᗩᑎᑎYᗩ
┗━━━━━━━━━━━━━✯͜͡❂⊱• ⃟ ⃟ •ইह═─
✯͜͡❂⊱•⊰✯͜͡❂ ๓ēຖนrนt นlค๓ค' Şนຖຖi Şฯi'คh ໓คຖ ຟคhhค๖i
✿ৡৢ˚1)• 𝕾𝖚𝖓𝖓𝖎
و قيل : من أقوال الشافعي، العلم أربعة مراحل:
(المرحلة الأولى): الكل يستطيع تناوله والوصول إلى هذه المرحلة ولكن اذا الشخص مشى في المرحلة الأولى ظن أنه أعلم الناس.
(المرحلة الثانية): اذا الشخص تعلمها علم أنه فاته علم كثير وعلم أن العلم طويل
(المرحلة الثالثة): علم ان ما فاته اكثر بكثير مما ادرك. فزاد تواضعه.
(واما المرحلة الرابعة): فلا يحيط بها احد الا ان يكون نبيا
Dikatakan : Dari perkataan Imam Asy Syafi’iy, ilmu itu ada empat tahap:
(Tahap pertama): Setiap orang bisa mendekatinya dan mencapai tahap ini, namun jika seseorang melewati tahap pertama (amatiran), DIA MENGIRA BAHWA DIALAH ORANG YANG PALING BERILMU.
(Tahap kedua): Jika seseorang mempelajarinya, ia mengetahui bahwa ia telah melewatkan banyak ilmu DAN IA BARU MENGETAHUI BAHWA ILMU ITU LUAS (TIDAK SEPERTI KATAK DALAM TEMPURUNG).
(Ketiga): dia belajar bahwa apa yang dia lewatkan ternyata lebih dari yang dia sadari, MAKA KERENDAHAN HATI (SIKAP TAWADLU'NYA) MULAI MENINGKAT.
(Adapun tahap keempat): tidak ada seorangpun yang dapat memahaminya KECUALI DIA ADALAH SEORANG NABI. Selesai.
❁˚ৡ✿⊱• Hujjatul Islam Imam Al-Ghazaliy Asy Syafi'iy membagi kriteria ulama kepada tiga kelompok dalam Kitabnya Ihya' Ulumiddin (Juz. 1 Hal. 48) :
فَالْعُلَمَاءُ ثَلَاثَةٌ :
إمَّا مُهْلِكٌ نَفْسَهُ وَغَيْرَهُ, وَهُمْ اَلْمُصَرِّحُوْنَ بِطَلَبِ الدُّنْيَا اَلْمُقْبِلُوْنَ عَلَيْهَا.
وَإمَّا مُسْعِدٌ نَفْسَهُ وَغَيْرَهُ, وَهُمْ اَلدَّاعُوْنَ إلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى ظَاهِرًا وَ بَاطِنًا.
وَإمَّا مُهْلِكٌ نَفْسَهُ مُسْعِدٌ غَيْرَهُ, وَهُوَ الَّذِي يَدْعُوْ إلَى الأَخِرَةِ وَقَدْ رَفَضَ الدُّنْيَا فِي ظَاهِرِهِ وَقَصْدُهُ فِي البَاطِنِ قَبُوْلُ الْخَلْقِ وَإقَامَةُ الْجَاهِ.
فَانْظُرْ مِنْ أَيِّ الْأَقْسَامِ أَنْتَ ؟ وَمَنِ الَّذِي اشْتَغَلْتَ بِالِاعْتِدَادِ لَهُ فَلَا تَظُنَّنَّ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقْبَلُ غَيْرَ الْخَالِصِ لِوَجْهِهِ تَعَالَى مِنَ الْعِلْمِ وَالْعَمَلِ .
[انظر كتاب إحياء علوم الدين : (ج ١ ص ٤٨) / كتاب العلم / الباب الخامس في آداب المتعلم والمعلم / المؤلف: أبو حامد محمد بن محمد الغزالي الطوسي الشافعي (ت ٥٠٥هـ) / الناشر: دار المعرفة - بيروت، بدون السنة]
Al Ulama' ada tiga kreteria :
(Pertama):
“Ada ulama yang mencelakakan dirinya dan orang lain, yaitu ulama yang terang-terangan mencari dunia dengan ilmu dan jabatannya.”
(Kedua):
“Ulama yang membahagiakan dirinya dan orang lain, yaitu ulama yang mengajak ummat ke jalan Allah, baik lahir ataupun batin.”
(Ketiga):
“Ada ulama yang mencelakakan dirinya tetapi dapat membahagiakan yang lain, yaitu ulama yang mengajak kepada akhirat dan pada lahiriyahnya ia menolak dunia, tetapi tujuan bathinnya adalah diterima oleh semua makhluk (mendapatkan penghargaan dari mereka) dan mendapatkan sanjungan dan kemuliaan di sisi mereka.”
Maka lihatlah kamu termasuk kategori yang mana? dan menjadi orang yang kamu akan mempersiapkan diri untuk siapa, maka jangan sampai kamu mengira bahwa Allah Ta'ala menerima selain orang-orang yang ikhlas demi Allah Ta'ala, dalam hal ilmu dan amal. Selesai.
❁˚ৡ✿⊱• Imam Asy Syafi'iy Menjelaskan Tentang Pemimpin Agama Atau Negara Harus Mau Menerima Kritik Dan Protes Karena Tidak Semua Orang Bisa Lego Legowo Dengan Fatwa Atau Rencananya :
Imam Abu Nu'aim mengabadikan pesan Imam Syafi'iy dalam kitabnya Hilyatul Auliya:
حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْعُثْمَانِيُّ، قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا بَكْرٍ النَّيْسَابُورِيَّ، يَقُولُ: سَمِعْتُ الرَّبِيعَ بْنَ سُلَيْمَانَ، يَقُولُ قَالَ الشَّافِعِيُّ:
«يَا رَبِيعُ، رِضَى النَّاسِ غَايَةٌ لَا تُدْرَكُ، فَعَلَيْكَ بِمَا يُصْلِحُكَ فَالْزَمْهُ. فَإِنَّهُ لَا سَبِيلَ إِلَى رِضَاهُمْ ...الحديث.
[رواه أبو نعيم في حلية الأولياء وطبقات الأصفياء : (ج ٩ ص ١٢٣) / الإمام الشافعي ومنهم الإمام الكامل العالم العامل ذو الشرف المنيف، والخلق الظريف، له السخاء والكرم، وهو الضياء في الظلم، أوضح المشكلات، وأفصح عن المعضلات، المنتشر علمه شرقا وغربا، المستفيض مذهبه برا وبحرا، المتبع للسنن والآثار، والمقتدي بما اجتمع / قال الشيخ رحمة الله تعالى عليه: ذكر الأئمة والعلماء له / المؤلف: أبو نعيم أحمد بن عبد الله الأصبهاني (ت ٤٣٠ هـ) / الناشر: مطبعة السعادة - بجوار محافظة مصر، عام النشر: ١٣٩٤ هـ - ١٩٧٤ مـ].
Dari Rabi' bin Sulaiman, ia berkata : Asy Syafi'iy rahimahullahu ta'ala berkata:
“Wahai Robi’, ridlo (kepuasan) manusia merupakan tujuan yang tidak bisa diraih, maka hendaknya engkau mencari perkara yang baik bagimu, lazimilah (tetapilah) perkara tersebut, karena sungguh tidak ada cara untuk meraih rida manusia.”
[HR. Abu Nu'aim Dalam Hilyatu Al Auliya : Juz. 9 Hal. 123].
❁˚ৡ✿⊱•Para Ahli Hikmah Juga Berkata:
رضا الناس غاية لا تُدرك * ورضا الله غاية لا تُترك
فاترك ما لا يُدرك * وأدرك ما لا يُترك
“Rida manusia merupakan tujuan yang tidak bisa diraih, sedangkan rida Allah merupakan tujuan yang tidak boleh ditinggalkan, maka tinggalkanlah apa yang tidak bisa diraih, dan raihlah apa yang tidak boleh ditinggalkan.”
Maka tidak sepantasnya, kita selalu mengajar sanjungan manusia karena hal tersebut hanya membuang-buang tenaga, kejarlah ridho yang maha kuasa, karena jika Allah Swt. meridaimu maka siapa yang berani membencimu.
❁˚ৡ✿⊱• Dikatakan Dalam Untaian Hikmah Yang Senada :
رضا الناس غاية لا تدرك، وليس إلى السلامة من ألسنة الناس سبيل، فعليك بما ينفعك فالزمه.
Kepuasan orang adalah tujuan yang tidak dapat dicapai, dan tidak ada cara untuk aman dari omongan orang, jadi pertahankan apa yang menguntungkan Anda. Selesai.
✿ৡৢ˚2)• 𝖂𝖆𝖍𝖍𝖆𝖇𝖎
#الجمعه العلم أربعة أربعاع كما ذكرها #الشافعي
(ذكره أ. د عبد السلام بن محمد بن سعد الشويعر (أستاذ مشارك بقسم العلوم الشرعية والقانونية في كلية الملك فهد الأمنية وهو من طلاب الشيخ ابن باز):
١)- فإذا تعلم الربع الأول ظن أنه أعلم الناس وهذا حال أكثر الناس
٢)- اذا تعلم الربع الثاني عرف أنه فاته شيء من العلم
٣)- امااذا تعلم الربع الثالث علم أن الذي فاته أكثر مما علم
٤)- الرابع لا يحيط به أحد من البشر (وما أُوتيتم من العلم الا قليلا)
❁˚ৡ✿⊱•#Jumlah Ilmu mempunyai empat kuadran seperti yang disebutkan #Al-Syafi'iy
(Disebutkan oleh Prof. Dr. Abdul Salam bin Muhammad bin Saad Al-Shuwai'ier Al Wahhabiy (Associate Professor di Departemen Ilmu Syariah dan Hukum di King Fahd Security College dan Salah Satu Murid Bin Bazz)
1)-Jika dia belajar pada suku pertama, dia mengira bahwa dia adalah orang yang paling berilmu, dan demikian pula halnya dengan kebanyakan orang.
2)-Jika dia mempelajari suku kedua, dia akan mengetahui bahwa dia melewatkan sebagian ilmu
3)-Jika dia mempelajari kuarter ketiga, dia tahu bahwa apa yang dia lewatkan lebih dari yang dia tahu
4)- Yang keempat, tidak ada manusia yang mampu memahaminya (dan kamu tidak diberi ilmu kecuali sedikit)
✿ৡৢ˚3)• 𝕾𝖞𝖎'𝖆𝖍
(فائدة) جاء في كتاب “المعرفة القلبيّة والعقليّة” – لمرتضى مطهّري (١٩١٩ مـ - ١٩٧٩ مـ) عالم دين وفيلسوف إسلامي ومفكر وكاتب شيعي إيراني، :
من المقولات المعروفة: إنّ للعلم ثلاث مراحل؛
عندما يبلغ الإنسان المرحلة الأولى يركبه الغرور والتكبّر، إذ ينظر إلى ما أدركه من بعض مسائل العلم فيعتبر نفسه أعلم وأفضل وأرفع من غيره من الأفراد، وهذه هي مرحلة رؤية العلم والذات.
وعند وصوله إلى المرحلة الثانية، تكون معلوماته قد ازدادت، فتتجلى له عظمة الخلق فسيستصغر نفسه وعلمه أمام عظمة ما تجلّى له، فيأخذه التواضع، وهذه مرحلة الرؤية الواقعيّة والمنظور الواقعي للعالم. فينتقل من رؤية العلم إلى رؤية العالَم. فبدلاً من أن يتطلّع إلى ما عنده من علمٍ، يطلق بصره في العالم ويتفهّم العالَم بما لديه من معلومات، حتّى يضع قدمه على اعتاب
المرحلة الثالثة.
في المرحلة الثالثة يعلم أنّه لا يعلم شيئاً، وهذه مرحلة الحيرة والإندهاش. في هذه المرحلة يدرك أنّ المقاييس والموازين الفكريّة التي اختزنها في صندوق فكره أتفه وأحقر من أن يستطيع من خلالها قياس هذا العالم العظيم، عندئذٍ يعلم أنّ مقاييسه العلميّة والفكريّة لا تصلح إلا لمحيط حياته الخاصّة وحسب.
(Faidah) : Tersebut dalam kitab Al Ma'rifah Al Qalbiyyah Al 'Aqliyyah karya Murtadlo Muthohariy Seorang Filosofi Islam Dan Pemikir Katib Syi'ah Iran :
Di antara perbincangan yang terkenal: Ilmu memiliki tiga tahap:
(Ketika seseorang mencapai tahap pertama): ia dipenuhi dengan kesombongan dan tipu daya, ketika dia melihat apa yang telah dia pelajari dari beberapa permasalahan ilmu pengetahuan, dia menganggap dirinya lebih berpengetahuan, lebih baik, dan lebih tinggi dari individu lain, dan ini adalah tahap melihat pengetahuan dan diri sendiri.
(Tahab Kedua) :
Ketika dia mencapai tahap kedua : ilmunya bertambah, dan keagungan ciptaan menjadi jelas baginya, dia akan merasa kecil terhadap dirinya sendiri dan ilmunya di hadapan keagungan apa yang ditampakkan jelas kepadanya, dan sikap tawadlu' kerendahan hati mulai menguasainya, Ini adalah tahap visi realistis dan perspektif dunia yang realistis, ia beralih dari melihat sains (ilmu) ke melihat dunia. Alih-alih memandang pada ilmu yang dimilikinya, kemudian ia mengarahkan pandangannya pada dunia dan memahami dunia, dengan ilmu pengetahuan yang dimilikinya, hingga ia menginjakkan kakinya di ambang tahap ketiga.
(Tahab Ketiga): Pada tahap ketiga dia baru sadar bahwa dia tidak mengetahui apa-apa, dan ini adalah tahap kebingungan dan keheranan. Pada tahap ini, ia menyadari bahwa standar dan skala intelektual yang ia simpan dalam kotak pemikirannya terlalu sepele dan hina untuk digunakan mengukur dunia besar ini. Kemudian ia menyadari bahwa standar ilmiah dan intelektualnya hanya cocok untuk konteks pribadinya dan pemikiran.
[Lihat Kitab “Ilmu Hati dan Pikiran” - Karya Morteza Motahhariy].
❁˚ৡ✿⊱•Dikisahkan Luqman Hakim dan putranya pergi jalan-jalan keluar masuk perkampungan dengan seekor keledainya :
روي أن لقمان الحكيم قال لولده في وصيته: لا تعلق قلبك برضى الناس ومدحهم وذمهم فإن ذلك لا يحصل ولو بالغ الانسان في تحصيله بغاية قدرته، فقال ولده: ما معناه؟ أحب أن أرى لذلك مثالا أو فعالا أو مقالا، فقال له:
أخرج أنا وأنت، فخرجا ومعهما بهيمة فركبه لقمان وترك ولده يمشي وراءه، فاجتازوا على قوم فقالوا: هذا شيخ قاسي القلب، قليل الرحمة، يركب هو الدابة وهو أقوى من هذا الصبي، ويترك هذا الصبي يمشي وراءه، وإن هذا بئس التدبير! فقال لولده: سمعت قولهم وإنكارهم لركوبي ومشيك؟ فقال: نعم، فقال:
اركب أنت يا ولدي حتى أمشي أنا، فركب ولده ومشى لقمان، فاجتازوا على جماعة أخرى فقالوا: هذا بئس الوالد وهذا بئس الولد، أما أبوه فإنه ما أدب هذا الصبي حتى يركب الدابة ويترك والده يمشي وراءه، والوالد أحق بالاحترام والركوب، وأما الولد فإنه عق والده بهذه الحال، فكلاهما أساءا في الفعال! فقال لقمان لولده: سمعت؟
فقال: نعم، فقال:
نركب معا الدابة، فركبا معا فاجتازا على جماعة فقالوا: ما في قلب هذين الراكبين رحمة، ولا عندهم من الله خير، يركبان معا الدابة يقطعان ظهرها و يحملانها مالا تطيق، لو كان قد ركب واحد ومشى واحد كان أصلح وأجود، فقال: سمعت؟ فقال: نعم، فقال:
هات حتى نترك الدابة تمشي خالية من ركوبنا، فساقا الدابة بين أيديهما وهما يمشيان فاجتازا على جماعة فقالوا: هذا عجيب من هذين الشخصين، يتركان دابة فارغة تمشي بغير راكب ويمشيان! وذموهما على ذلك كما ذموهما على كل ما كان، فقال لولده: ترى في تحصيل رضاهم حيلة لمحتال؟ فلا تلتفت إليهم، واشتغل برضى الله جل جلاله، ففيه شغل شاغل، وسعادة وإقبال في الدنيا ويوم الحساب والسؤال.
[انظر كتاب فتح الأبواب مخطوط / للسيد رضي الدين، علي بن موسى بن جعفر بن طاووس المعروف بالسيد ابن طاووس من أحفاد الإمامين الحسن المجتبى والسجاد (عليهما السلام) ومن كبار شخصيات الشيعة وعلماء الإمامية (١١٩٣ مـ - ١٢٦٦ مـ) ]
Tersebut dalam Fathu Al Abwab Makhthut karya Sayyid Ibnu Thowwus Asy Syi'iy Al Imamiyyah :
Diriwayatkan bahwa Luqman Hakim berkata kepada putranya dalam wasiatnya: Jangan melekatkan hatimu pada kepuasan (kerelaan) semua manusia, pujian, atau celaan mereka, karena hal itu tidak akan terjadi meskipun seseorang bertindak ekstrem dalam mencapainya dengan sekuat tenaga. Putranya berkata: Apa maksudnya? Saya ingin melihat contoh, tindakan, atau perkataan, maka Luqman Hakim berkata putranya:
Engkau dan aku akan keluar. Kemudian mereka keluar dengan seekor binatang, dan Luqman menungganginya dan meninggalkan putranya berjalan di belakangnya. Mereka melewati (kampung pertama), maka orang-orang kampungpun berkomentar : INI BAPAK KERAS HATINYA, TIDAK MENYAYANGI ANAKNYA. Mosok Dia naik keledai dan anak kecil disuruh jalan kaki.
(Memasuki kampung kedua), giliran putranya yang naik keledai dan Luqman Hakim yang jalan kaki. Maka orang-orang pun berkomentar : INI ANAK KURANG AJAR..
Bapaknya disuruh jalan kaki dan dia enak2an naik keledai.
(Memasuki kampung ketiga), mereka berdua naik keledai berboncengan.
Maka orang-rangpun berkomentar, INI BAPAK DAN ANAK TIDAK KASIHAN PADA BINATANG. Keledai kecil dinaiki 2 orang.
(Memasuki kampung ke empat).
Luqman Hakim dan putranya tidak ada yang menaiki keledai, mereka jalan kaki semua. Maka orang-orang pun berkomentar : INI ORANG-ORANG BODOH SEMUA, Punya keledai tapi tidak ada yang naik..
Maka saat itu Luqman Hakim berkata pada putranya :
رضا الناس غاية لا تدرك
“Keridhoan semua manusia adalah cita yang sulit engkau dapatkan.” Selesai.
✯͜͡❂⊱•أَلحَمْدُ لِلّـهِ الَّذِيْ بِنِعْمَتِهِ تَتُمُّ الصّالِحَاتُ✯͜͡❂⊱•
•._.••´¯``•.¸¸.•` 🎀 кяα∂єηαη ѕєℓαтαη
ѕяυмвυηg
мαgєℓαηg
🎀 `•.¸¸.•``¯´••._.•
١٩ ذو القعدة ١٤٤٥ هـ
28 мєι 2024 м

Tidak ada komentar:
Posting Komentar